Persoalan kelaparan kembali mengemuka di negara kita. Harga beras yang naik terus sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat menyebabkan sebagian masyarakat harus makan nasi basi. Mendengar berita tersebut kita akan teringat kisah Khalifah Umar bin Khattab.
Malam itu Khalifah Umar sedang meninjau rakyatnya dengan menyamar sebagai warga biasa. Ketika melewati sebuah tenda yang masih diterangi lampu minyak dilihatnya seorang ibu sedang memasak sesuatu di kuali besar. Disamping ibu itu seorang anaknya merengek-rengek kelaparan, minta untuk segera makan. Ibu itu selalu menjawab bahwa masakannya belum matang. “Tidurlah dulu, nanti kalau sudah matang Ibu bangunkan”. Begitu jawaban ibu berulang kali tetapi anaknya yang masih kelaparan tidak juga dapat memakan masakan dari dalam kuali itu.
Sang Khalifah yang sedang menyamar pun penasaran dan mendekati ibu tersebut. Beliau bertanya”Ibu sedang memasak apa?” Ibu itu pun menjawab bahwa ia sedang memasak batu. Khalifah Umar heran, kemudian bertanya kenapa memasak batu. Si Ibu menjawab bahwa ia tidak punya gandum untuk dimasak untuk makanan anaknya. “Khalifah Umar bukan pemimpin yang baik. Dia tidak memperhatikan warganya yang kelaparan”. Ibu itu tidak tahu bahwa laki-laki yang bertanya itu adalah Khalifah Umar sendiri. Mendengar keluhan ibu itu, Khalifah Umar bin Khattab tidak marah justru malu. Segera beliau kembali ke kediamannya dan mengambil sekarung gandum untuk diberikannya kepada ibu itu.
Cerita di atas merupakan cerminan akhlak sosial yang dimiliki Khalifah Umar. Beliau tidak bisa membiarkan warganya kelaparan karena warganya adalah tanggung jawabnya.
Akhlak atau perangai, adat kebiasaan, tabi’at adalah sifat yang melekat dalam jiwa yang mendorong lahirnya perbuatan manusia. Dalam ajaran Islam, akhlak merupakan salah satu ajaran mengenai perilaku yang seharusnya dan yang tidak seharusnya dilakukan. Maka, ada akhlak yang baik, yang terpuji disebut akhlaq mahmudah. Ada pula perilaku yang buruk, disebut akhlak tercela atau akhlaq madmumah.
Akhlak sosial merupakan bagian ajaran tentang akhlak, yang berkaitan dengan perilaku baik dan buruk yang berkaitan dengan hubungan-hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat. Seperti kita tak boleh mendholimi orang lain, orang yang lebih ‘lemah’ dibanding kita. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa kita tidak boleh tidur pulas karena kekenyangan sementara ada tetangga kita yang tidak bisa tidur karena kelaparan. Masih banyak ajaran Islam yang menyuruh kita untuk mempedulikan sesama dan lingkungan kita. Intinya, kepedulian kita terhadap sesama dalam kehidupan bersama adalah sebagai konsekuensi peran kita sebagai khalifah di bumi ini. Wallahu ‘alam.
Ditulis oleh Siti Rusdiyati
Bendahara PPNA
