Syukur Atas Segala Nikmat

Beberapa waktu lalu kita disuguhkan fenomena upaya bunuh diri yang dilakukan oleh seorang ibu dengan mengajak anak-anaknya. Penyebabnya pun seputar ketertakutan diri akan ketidakmampuan ekonomi untuk menopang hidup. Fenomena bunuh diri ini juga kadang dikaitkan dengan sikap putus asa karena apa yang diharapkannya tidak dapat diwujudkan. Bunuh diri seakan menjadi jalan pintas efektif untuk menyelesaikan masalah hidup.

Di tempat lain, kita menyaksikan orang-orang yang melibatkan hidupnya untuk foya-foya dan bersenang-senang. Kebahagiaan diukur hanya dengan kemampuan kita mendapatkan kesenangan hidup dengan berfoya-foya dan kepemilikan harta yang banyak. Bagi kelompok ini, dunia adalah akhir dari kehidupan, tidak ada lagi kehidupan setelah kematian. Sehingga dunia merupakan kesempatan untuk bersenang-senang. Dan untuk mendapat kesenangan, kelompok ini pun rela untuk menghalalkan segala cara.

Fenomena diametral di atas menunjukkan bahwa “hidup kita sesungguhnya tidaklah linear/lurus”. Kita tidak akan berada dalam posisi sulit terus menerus, sebagaimana kita pula tidak akan berada dalam kondisi senang terus menerus. Hidup ini telah ada yang mengatur, tidak berjalan tanpa arah. Kita manusia memang dituntut untuk berusaha, tetapi yang memberi kekuatan dan putusan adalah yang memiliki kehidupan kita itu sendiri. Allah tidaklah menciptakan apa yang ada dalam makhluq-Nya dengan sia-sia atau main-main. Allah pun tidak akan pilih kasih dalam memberikan rahmat-Nya. Kita manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan segalanya. Sehingga banyak yang tak terduga hadir dalam kehidupan kita, dan inilah yang menunjukkan bahwa sesungguhnya hidup ini tidak linear.

Terpenting bagi kita adalah bagaimana kita menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur. Syukur atas segala karunia-Nya yang telah diberikan. Ibnu ‘Athaillah dalam kitab al-Hikam mengingatkan bahwa “jangan sekali-kali kita menganggap kalau karunia Allah itu lamban, namun anggaplah kita merasakan kelambatan diri kita dalam menghadap Tuhan”. Syukur sesungguhnya akan mengantarkan diri kita pada sikap merasa cukup terhadap apa yang telah Allah berikan, karena melalui syukur itulah Allah akan menambahkan nikmat-Nya, tidak sebatas materi, tetapi kecukupan terhadap nikmat yang diberikan itu sendiri. Sebagaimana firman-Nya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S. Ibrahim/14: 7).

Ditulis oleh Herlina Lusiannawaty

Anggota Dept. Dakwah PPNA

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply






Departemen Kominmas Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah-2013-


Bagikan Artikel:
WhatsApp Facebook X / Twitter
Artikel Sebelumnya
Indahnya Syukur
Artikel Selanjutnya
Kelaparan dan Akhlak Sosial