PP ‘Aisyiyah Tutup Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah

<a href="http://nasyiah.or.id/nasyiahpusat/?p=544" rel="bookmark" title="Permanent Link to PP ‘Aisyiyah Tutup Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah">PP ‘Aisyiyah Tutup Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah</a>

Surabaya- Agenda Tanwir 1 Nasyiatil Aisyiyah yang telah berlangsung selama tiga hari resmi ditutup oleh Ibu Siti Noordjannah, Ketua PP Aisyiyah (5/11). Acara yang berlangsung di Aula Mohopahit, Gedung Dinas PU Surabaya ini diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, yang diwakilkan oleh Deputi I Bidang Bemberdayaan, Ibu Pinky Saptandari.

Dalam sambutannya Pinky Saptandari menyampaikan bahwa tujuan dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) dalah demi terwujudnya kesejahteraan gender dan perlindungan anak.

“Tanpa kemjuan pada kesetaraan gender, target MDG’s (Millenium Development Gold’s) akan tercapai. Dimana MDGs merupakan program kesepakatan global untuk mengurangi kemiskinan dan peningakatan kualitas hidup manusia yang ditargetkan tercapai pada tahun 2015.” jelas Pinky

Di samping itu Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Noordjanah Djohantini mengungkapkan bahwa hal-hal yang menjadi persoalan perempuan dan anak merupakan target utama dalam program kerja Aisyiyah maupun Nasyiatul Aisyiyah. Dan kemudian program-program tersebut terealisasikan dalam gerakan praksis yang juga akan dilakukan di wilayah, daerah maupun cabang.

“Putri-putri Nasyiah merupakan generasi muda yang menjadi harapan bangsa dan juga merupakan calon-calon peminpin di masa depan, oleh karena itu kader-kader Nasyiah hendaknya memiliki karakter utama dalam memajukan perempuan.” tutur Noordjannah. (Mona)

Tanwir I NA, Hadirkan Seminar dan Diskusi Serta Penanaman 1000 Mangrove

Tanwir

Surabaya – memasuki hari terakir sidang tanwir I- Nasyiatul Aisyiah, berbagai kegiatan lapangan mulai digelar. hari ini sebagai bagian dari komitmen nyata Nasyiah dalam mewujudkan advokasi terhadap perempuan dan anak, juga mendekat pada wilayah lingkungan, yakni penanaman 1.000 mangrove di pantai eco wisata. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta dari 29 provinsi. Dalam rangkaian diskusi nasyiah, yang digelar sejak hari ahad 3/11/2013 juga menghadirkan, pimpinan KPK, Busyro Muqodas, “Korupsi sekarang mengalami dinamika karena pelakunya tambah, mulai dari Elit politik pusat, daerah, cukong, calo atau makelar, calo proyek bekerjasama bershaf-shaf. sinerginya luar biasa. yang dijarah pun mengalami perkembangan salah satunya dengan mendesai kebijakan negara uang permisif terhadap potensi-potensi korupsi. bahkan putusan-putusan hakimpun perlu diwaspadai” ungkapnya dalam stadium general dengan tema “korupsi dan kualitas hidup perempuan dan anak: praktek, dampak dan pencegahan( 4 /11 / 2013).

Nasyiatul Aisyiah, mempunyai tantangan besar untuk memasukkan kadernya untuk duduk diposisi strategis agar bisa memberantas korupsi. sebagai perempuan, tunjukkan komitmen agar cita bangsa dan negara diwujudkan dengan mengemban jabatan secara amanah nir perilaku korupsi. Sementara itu, dalam sidang hasil komisi, yang terbagi atas bidang kaderisasi, kemasyarakatan, keislaman dan organisasi. mengamanatkan rekomendasi penting diantaranya secara internal adalah mensosialisasikan panduan BUANA (badan usaha amal usaha NA), tanggap bencana, dan parenting club. Serta secara eksternal adalah mengadvokasi untuk penurunan angka kematian ibu dan bayi lewat puskesmas, Posyandu dan layanan kesehatan lainnya, menyerukan kampanye advokasi pencegahan pelecehan seksual, pembenahan hukum kepada kepada pengedar NAPZA utamanya dengan mereka yang memberi target kepada perempuan dan anak-anak. Memiskinkan para koruptor dengan cara mengambil harta bendanya untuk disalurkan untuk aktivitas-aktivitas sosial.

Di akhir kegiatan, Tanwir I Nasyiatul Aisyiah ditutup oleh wakil dari kemeneg – PP yang disampaikan oleh deputi I, Pinky Saptandari, dalam sambutannya menekankan bahwa pentingnya untuk menekan angka kematian ibu, perlindungan anak pada semua kebijakan, terwujudnya kabupaten/kota yang responsif gender, berperan nya lembaga masyarakat untuk pemberdayaan anak dan perempuan, seperti salah satunya Gerakan Nasyiatul Aisyiah. Isu MDGS juga menjadi poin yang tak kalah penting, mengingat Indonesia masih mengalami ketertinggalan dalam mencapai target beberapa aspek seperti kesehatan, kemiskinan dan pendidikan. Pembedaan dalam kasus pemberian prioritas pendidikan, juga menjadi catatan penting yakni pentingnya memprioritaskan anak perempuan untuk mempunyai kesempatan untuk bersekolah setara dengan anak laki-laki agar seimbang dalam beraktivitas untuk publik. (nurlia)

Identitas Kader Nasyiatul Aisyiyah Bukanlah Aktivis yang Meninggalkan Keluarga

IMG_0340

Surabaya  – Pembukaan sidang Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah yang berlangsung di Gedung PWM Jawa Timur kemarin Ahad (3/11) dimana NA baru memasuki usia yang ke 85. Norma Sari, Ketua PP NA, dalam sambutannya menyatakan bahwa dalam usia yang cukup tua, NA tidak pernah meninggalkan bagaimana berfikir, berjiwa dan beraktivitas yang muda, karena kader NA adalah perempuan yang terdidik tiap hari, bekerja digemari, dan kemuliaan Islam yang dicari.

Sesuai dengan tujuan Muhammadiyah yakni menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya merupakan sebuah jalan panjang. Dimana jalan panjang itu dimulai dengan menjadi putri yang berarti bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan umat.

“Itulah sebabnyaakan tetapi aktivis yang mengutamakan keluarga dan mampu mengambil peran-peran publik lainnya dalam waktu yang bersamaan,” tutur dosen yang sehari-harinya beraktifitas di UAD.

Tema “Pengarusutamaan Advokasi Perempuan dan Anak Melalui Pendidikan Profetik” diangkat berdasarkan gerakan Nasyiah yaitu Gerakan Ramah Anak dan Perempuan. Gerakan ramah anak dan perempuan ini tidak hanya dilakukan oleh kaum perempuan, akan tetapi perlu juga partisipasi dari kaum laki-laki, karena masalah-masalah perempuan tidak bisa diselesaikan dengan sendirinya oleh perempuan.

“Pendidikan profetik yang merupakan amanah dari muktamar NA di Lampung tahun 2013 adalah upaya sinergis sumberdaya dan advokasi bagi perempuan dan anak. Program pendidikan profetik merupakan matanya sedangkan praksisnya adalah amar ma’ruf nahi munkar,” jelas Norma. (mona)

Bagikan Artikel:
WhatsApp Facebook X / Twitter