Sejarah Nasyiatul Aisyiyah
Akar Sejarah: Siswa Praja Wanita (1919)
Berdirinya Nasyi’atul Aisyiyah (NA) tidak bisa dilepaskan dari komitmen Muhammadiyah-‘Aisyiyah untuk menjaga keberlangsungan kader penerus perjuangan persyarikatan. Gagasan mendirikan NA bermula dari ide Soemodirdjo, seorang guru Standart School Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta pada tahun 1919. Bersama K.H. Hadjid, Soemodirdjo mendirikan perkumpulan siswa yang diberi nama Siswa Praja (SP) guna menanamkan rasa persatuan, memperdalam ilmu agama, dan memperbaiki akhlak anak-anak muda.
Setelah lima bulan berjalan, diadakan pemisahan antara anggota laki-laki dan perempuan. Kegiatan SP Wanita dipusatkan di rumah Haji Irsyad (sekarang Musholla ‘Aisyiyah Kauman). Berbagai kegiatan keputrian diadakan, seperti pengajian Tholabus Sa’adah, Dirasatul Bannat, hingga kepanduan dan tamasya bulanan.
Integrasi ke ‘Aisyiyah dan Perubahan Nama (1931)
Pada tahun 1923, SP Wanita diintegrasikan menjadi bagian urusan ‘Aisyiyah. Pada Kongres Muhammadiyah ke-18 tahun 1929, semua cabang Muhammadiyah diwajibkan membentuk kepengurusan SP Wanita. Nama perkumpulan kemudian resmi diubah menjadi Nasyiatul Aisyiyah pada Kongres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta tahun 1931.
Pada Kongres Muhammadiyah ke-26 tahun 1938 di Yogyakarta, ditetapkan Lambang Padi sebagai lambang resmi NA dan disahkannya lagu “Simbol Padi” sebagai Mars Nasyiatul Aisyiyah.
Status Organisasi Otonom (1963–1965)
Seiring pesatnya perkembangan cabang di seluruh Nusantara, Sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1963 di Jakarta memutuskan memberi status Organisasi Otonom (Ortom) penuh kepada Nasyiatul Aisyiyah. Persiapan musyawarah nasional pertama dipimpin oleh Siti Karimah, hingga akhirnya Nasyiatul Aisyiyah menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) I di Bandung pada tahun 1965 bersamaan dengan Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.