Nasyiah Aisyiyah Siap Menjadi Kader Politisi Perempuan yang Berintegritas

Bicara tentang politik, idealnya politik merupakan ruang netral dan anti bias, politik aksesibel bagi laki-laki dan perempuan. Perjalanan sejarah politik Indonesia telah mencatat adanya politik afirmatif khusus diperuntukkan bagi perempuan Indonesia. Politik dinilai sebagai cara untuk mendorong perempuan Indonesia terlibat aktif dan partisipatif dalam aktivitas politik, politik dianggap sebagai alat untuk mewujudkan kesejahteraan perempuan dan anak. Para pengamat menilai bahwa keterlibatan perempuan di dunia politik bisa merealisasikan kesejahteraan perempuan dan anak.
Nasyiah Aisyiyah sebagai salah satu ormas perempuan yang memiliki basis massa perempuan muda mempercayai hal itu. Nasyiah Aisyiyah pun memiliki kepentingan dalam menggoalkan suksesnya politisi perempuan di dunia politik dengan mendudukkan kader-kader NA di jajaran strategis politik. Nasyiah menyiapkan bank-kader yang siap mengisi dan mewarnai politik Indonesia, baik untuk jajaran legislatif hingga eksekutif. Nasyiah terus menggembleng kader-kadernya untuk menjadi kader yang akan menjunjung nilai-nilai moral, keagamaan, dan ke-Indonesiaan.
Namun dalam perjalanannya, politik afirmatif yang telah diatur dalam UU no 21 tahun 2013 tidak mudah terealisir. Kesungguhan para pelaku utama politik seperti petinggi-petinggi partai untuk mengisi jajaran politik tersebut dengan kader-kader perempuan yang berkualitas masih lemah. Mereka lebih memilih untuk mendudukkan kader-kader selebritis yang akan mendongkrak nama partai di publik, mereka rela mengorbankan kualitas demi nama partai.
Para petinggi partai harus membuka diri dan sadar akan pentingnya peran mereka dalam menentukan nasib partai dan bangsa. Keberhasilan pembangunan bermuara dari kader partai yang duduk di jajaran strategis perpolitikan di Indonesia. Kader yang duduk di kursi politik merupakan ujung tombak pembangunan, sehingga menjadi keniscayaan akan adanya politisi yang memiliki will dan integritas.
Di sisi lain, Nasyiah Aisyiyah melihat, suksesnya kuota 30 persen dalam politik memerlukan keterlibatan berbagai pihak, baik pemerintah, partai, dan maupun masyarakat luas. Untuk merubah pola politik yang tidak imbang, dibutuhkan komunikasi dan kerjasama yang sinergis antara ketiga elemen tersebut sehingga terwujud ruang politik yang ramah terhadap perempuan. Dengan semangat “bekerja digemari”, Nasyiah Aisyiyah telah menyiapkan sejuta kader untuk mengisi ruang politik dan siap bekerja.Albirru manittaqo.
Yogyakarta, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah