Jurnalisme Warga Berpihak Perempuan

“Lemahnya kemampuan menulis di kalangan aktivis perempuan menjadi alasan utama mengapa pelatihan Jurnalisme Warga ini diselenggarakan”. Demikian diungkapkan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Ulfah Mawardi saat membuka Pelatihan Jurnalisme Berpihak Perempuan yang diselenggarakan Bidang Komunikasi, Informasi dan Kehumasan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Jumat (30/05) pagi.

Dijelaskan Ulfah, budaya jurnalisme di Nasyiatul Aisyiyah terbilang sedikit eksklusif, karena dari sekian banyak kader Muhammadiyah hanya 1–10% yang dapat melakukan reportase. Hal ini menjadi sebuah keyakinan, bahwa peserta yang merupakan delegasi tiap wilayah NA dapat menjadi corong untuk mengembangkan dan membangun isu Jurnalisme Warga di daerahnya masing-masing. 

Pelatihan Jurnalisme Warga Berpihak Perempuan ini melibatkan 30 peserta dari PWNA Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi selatan, beberapa kader Nasyiah se-Jabodetabek seperti PDNA Sukabumi, Tangerang Selatan, Bogor, Bekasi, Ciputat, dan perwakilan dari pengurus ortom IPM dan IMM, serta menghadirkan beberapa narasumber dari para penggiat media professional.

Sesi pertama, materi disampaikan oleh Iskandar Zulkarnaen (Community Editor Kompas.com) yang menjelaskan bahwa Jurnalisme Warga lahir ketika banyak warga yang tidak puas terhadap berita di media mainstream, dan mereka merasa sangat tidak terwakilkan oleh media-media tersebut. Dengan keterlibatan warga sebagai pembuat berita, menjadikan banyak informasi atau isu yang tidak terungkap media massa, dapat terungkap di jurnalisme warga. Salah satu media warga yang menampung konten artikel dari kerumunan warga pengguna Internet (berita, opini, fiksi) adalah kompasiana. Di portal inilah berbagai konten informasi dikelola layaknya sebuah media mainstream. Peserta juga diberi gambaran berbagai menu yang terdapat dalam akun kompasiana serta pemanfaatannya dalam jurnalisme warga.

Narasumber lain adalah Maria Hartiningsih, wartawan senior Harian Kompas yang tidak hanya mensyaratkan bahwa Jurnalisme warga yang baik harus memenuhi 5 W+1 H, beliau juga mengajak peserta untuk menganalisis mengenai citra perempuan yang selama ini dibangun oleh media.

“Perempuan selalu digambarkan sebagai makhluk cantik dan harus menjaga kecantikannya dengan latihan fisik, diet, aksesori, dan pakaian. Segala sesuatu yang mewah diasosiasikan dengan perempuan. Dalam iklan-iklan di TV hal ini tampak sangat jelas”. Ujar Maria Hartiningsih

Beliau juga menambahkan, “Misalnya dalam kasus perkosaan, yang biasanya menjadi korban adalah perempuan atau anak. Jika mengacu pada kode etik, wartawan perlu memperhatikan psikologis korban, tidak diperbolehkan menuliskan segala sesuatunya secara detail, korban maupun keluarga tidak boleh difoto, dan dilarang keras berbicara kepada korban karena dia mengalami kerentanan yang luar biasa. Kenyataannya, banyak penggunaan diksi yang menyudutkan perempuan yang amat sering digunakan para  jurnalis “atas nama fakta” yang sebenarnya tidak relevan”. Tambahnya

Sesi ketiga adalah materi yang disampaikan oleh Alex Aji dari Koran Sindo yang mengupas lebih dalam mengenai Kode Etik Jurnalisme Warga.

Yang menarik dari pelatihan ini adalah peserta diajak liputan langsung ke lapangan. Setelah sebelumnya, Rony Panengah, Produser Wide Shot Metro TV , meng-upgrade peserta mengenai pemilihan tema dan penyesuaian visualisasi, serta tips bagaimana menjadi reporter yang baik, mulai dari cara stand up reporting, menjaga percaya diri, sampai dengan kecakapan pengetahuan yang harus dimiliki seorang reporter.

Didampingi oleh tim wide shot Metro TV, Peserta disebar ke beberapa titik. Ada yang meliput persoalan tumpukan sampah yang menggunung di pembuangan sampah Blok 4 Pasar Senen, ada juga liputan mengenai TPU Menteng yang dijadikan perkampungan pemulung, serta berbagai berita lain yang berhasil diliput para peserta.

“Semua liputan sudah bagus, namun masih harus banyak berlatih, terdapat 4 liputan peserta yang layak tayang, dan 3 liputan yang harus dilakukan sedikit pengeditan” ujar Mba Arum, koordinator Jurnalisme Warga di program Wide Shot.

Rencananya, pelatihan jurnalisme warga ini, serta hasil liputan peserta yang menarik dan memenuhi ketentuan akan disiarkan oleh Metro TV dalam Program Wide Shot yang tayang pada Senin – Jumat pukul 13.00 – 17.00 Wib.

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply






Departemen Kominmas Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah-2013-


Bagikan Artikel:
WhatsApp Facebook X / Twitter
Artikel Sebelumnya
Pelatihan Jurnalisme Warga Berpihak Perempuan
Artikel Selanjutnya
Prosiding Workshop Jurnalisme Warga PP NA